An Epitome of Loneliness
I want to tell you something.
I came to a realization that loneliness is scary but at the same time it's not the worst thing. Banyak yang kadang gak suka sendiri, banyak pula yang lebih milih untuk pergi. Ada yang suka berada diantara orang-orang dan ada yang suka mandiri dalam sunyi.
Gue tau rasanya sendiri, rasanya kesepian gak punya siapa-siapa buat nemenin. Jujur, sepi terberat adalah moment-moment setelah gue kehilangan dia. Cheesy, gue tau, tapi waktu gue putus dan jadi sendiri, rasanya gak enak banget. Keseharian gue di kota orang yang biasanya ada dia, berubah setelah kita putus. Gue sendiri dan hal itu buat gue merasa jatuh.
Gue sadar dia bukan tumpuan gue dalam hidup, tapi kita yang merantau pasti tau rasanya isolasi tanpa kehadiran orang yg kita kasihi. Keluarga jauh, jarang ketemu, ditambah dia yg udah hilang gak bertemu. Itu jadi downfall gue saat itu. Gue stress.
Tapi lagi, setelah lebaran ini gue jadi semakin merasa kalo sendiri itu gak terlalu buruk. Maksudnya, ngeliat dari perspektif lain, sepi gue belum ada apa-apanya. Sure, gue gak punya pasangan, sahabat-sahabat gue jauh, keluarga gue di pulau lain. Cuma, setelah melihat beberapa contoh lain, gue merasa sangat kecil.
---
I want to talk about my grandpa. He's a widower. My grandma is long gone and my grandpa has always been alone since.
Beliau sekarang gak punya rumah dan menetap di rumah anak-anaknya. Pindah-pindah. Sejak kematian Nenek, Kakung gak banyak kemana-mana. Hal itu diperparah waktu beliau kecelakaan. Kaki beliau jadi lemah dan susah dibawa gerak. Beliau bakal kesakitan kalo maksa dirinya jalan.
Karena kondisinya sekarang, beliau lebih sering diam di rumah, duduk di kursi rodanya atau baringan diatas kasurnya. Kesehariannya dihabiskan dengan mantengin TV, kadang nonton youtube, tidur, dan ibadah. Beliau jarang keluar rumah, bahkan untuk sekadar jalan-jalan atau kena matahari.
I often observe him in his usual manners, that his monotonous days are nothing but lonely. I watch him grow older as he spend his days no longer able to walk freely. I feel pity. For him, and for myself.
Melihat beliau yang sampai saat ini masih bisa bercanda dan tersenyum, gue merasa lemah. Sepi gue belum ada apa-apanya dibandingkan sepi Kakung. Gue masih bisa jalan dan kemana-mana, sedangkan beliau cuma bisa membunuh waktu dengan rangkaian kegiatan yang bahkan sulit ia lakukan sendiri.
Gue tau membandingkan kadaan gue dan beliau, hasilnya juga bakal berbeda. Tapi itu bukan berarti gue gak bisa bersyukur atas kondisi gue yang masih lebih baik. Beliau dengan keadaannya, masih bisa bahagia walaupun gak banyak yang bisa dilakukan. Kenapa gue gak bisa?
---
Sometimes, we regard loneliness as a sickness. That we are sick, that we can't handle this.
Sometimes, our loss is forever a grieve. That we have nothing else to celebrate to, that we have been reduced to nothing.
However, sometimes, we may be alone, but in our solitude we still have things to be grateful for. That we can cherish along the way, that can help us resurface.
Sometimes it's people. Sometimes it's things you love. Sometimes it's just you.
All you have to do is to find it. Find something in our loneliness and be thankful that you still have something. Thereafter, we can try to use it to be better, to become someone that can face even the loneliest time with smile just like my grandpa.
I simply hope for everyone in their loneliness, their sadness, their loss, their grieve, to be able to find happiness even in their darkest hour. I wish you can make whatever made you feel lonely the fuel to your spirit and rise above. To be better in the future.
Komentar
Posting Komentar